SOS: 50% Calon Pengurus PSSI Berlatar Belakang Politik

SOS: 50% Calon Pengurus PSSI Berlatar Belakang Politik
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.





Jakarta – Pemilihan pengurus baru PSSI tak lama lagi digelar. Pemilik suara diharapkan bisa benar-benar memilih calon yang tepat untuk sepakbola Indonesia.

Sempat menjadi polemik pemilihan tempat, kongres PSSI akhirnya dijadwalkan diadakan pada 10 November di Jakarta. Hal itu berdasarkan surat balasan dari FIFA yang ditujukan kepada Kemenpora pada 14 Oktober lalu.

Berdasarkan hasil riset Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) #SOS (Save Our Soccer), total ada 86 nama yang akan bertarung memperebutkan 15 posisi inti (satu ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 Komite Eksekutif). Rinciannya: 9 calon Ketua Umum, 18 Calon Waketum, dan 59 calon Komite Eksekutif.

Namun jika diringkas lagi, sejatinya hanya ada 64 personil yang mencalonkan diri. Sebab ada beberapa orang yang mencalonkan diri untuk tiga dan dua posisi sekaligus.

Misalnya Kurniawan Dwi Yulianto, Eddy Rumpoko, dan Tonny Apriliani mencalonkan diri untuk tiga posisi: Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Komite Eksekutif (Exco).

Sementara Benhard Limbong mencalonkan sebagai Ketua Umum dan Exco. Erwin Aksa dan Sarman L. Hakim sebagai Ketua Umum dan Waketum. Selebihnya, Juni Rachman, Hadiyandra, Yesayas Octavianus, Sihar Sitorus, Dodi Alex Nurdin, GH Sutejo, Llano Mahardika, Iwan Budianto, Joko Driyono, Hinca Panjaitan, Subardi, Andi Rukmana Karumpa, dan Erwin Dwi Budiawan sebagai Waketum dan Exco.

Yang menarik dari data yang dimiliki #SOS total dari 64 nama calon yang ada, 50 persen lebih didominasi personal yang berlatar belakang politik. Rinciannya, 34 politisi, 22 orang praktisi sepakbola, empat orang berlatar belakang militer dan polisi. Hanya empat orang yang merupakan mantan pemain sepak bola.

Melihat calon-calon tersebut, SOS pun memiliki kriteria khusus bagi pemimpin PSSI. Pertama, siap jiwa dan raga menjalankan visi dan misi reformasi total sepakbola Indonesia.

Kedua, berwibawa, bermoral dan tegas. Ketiga, pejuang, bukan pencari uang dan menjadikan sepakbola sebagai kendaraan politik atau bisnis kelompok. Keempat, jujur, berkomitmen, dan professional. Dan, Kelima, transparan dan akuntabel dalam keuangan.

“Untuk sepakbola Indonesia yang saat ini berada di titik nadir, PSSI harus dipimpin oleh ‘NABI’, bukan politisi. Kick out politic from our footbal. “NABI” sendiri singkatan dari Netral, Aktif, Berani, dan Integritas.” ujar Akmal Marhali, Koordinator, SOS melalui rilisnya, Jumat (21/10)

Menurut SOS Netral berarti pengurus PSSI kedepan tidak membawa kepentingan kelompok, politik, dan bisnis tertentu seperti yang terjadi sebelumnya. Pengurus juga harus aktif. Tidak boleh lagi ada rangkap jabatan. Berani menegakkan konstitusi organisasi dan paying hukum yang berlaku. Tidak lagi tebang pilih dalam mengambil keputusan. Integritas berarti punya tanggung jawab moral dan professional dalam membangun sepakbola Indonesia menuju prestasi yang diidamkan.

“Mereka yang punya karakter ‘NABI’ akan fokus memimpin PSSI. Sepakbola Indonesia tidak boleh lagi dikelola sambilan. Mereka yang orang politik harus memilih antara politik atau sepakbola. Mereka yang punya jabatan pemerintahan juga harus memutuskan mundur untuk konsen mengurus bola,”

“Mereka yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Provinsi atau CEO Klub juga harus memilih. Jangan lagi ada rangkap jabatan. Semua pengurus inti PSSI harus fokus untuk sepakbola,”

Namun dari sekian banyaknya calon, SOS merasa prihatin karena masih didominasi oleh politikus dan yang memiliki rangkap jabatan. Menurutnya sudah saatnya PSSI terbebas dari kepentingan politik.

Dari calon-calon yang merupakan politisi di antaranya Hinca Panjaitan, Jackson Andre William Kumaat (Demokrat), Tony Apriliani, Erwin Aksa, Erwin Dwi Budiawan, Kadir Halid, Adang Gunawan (Golkar), Subardi (Nasdem), Robertho Rouw, Fery Djemy, R. Bambang Pramukantoro, Diza Rasyid Ali (Gerindra), Djamal Aziz (Hanura), dan Cheppy T. Wartono (PDI Perjuangan).

“Sudah waktunya sepakbola kita tak lagi dijadikan kendaraan politik. Sepak bola harus dikembalikan ke hakikatnya. Tidak lagi dipolitisasi terus menerus. Biarkan sepakbola menjadi milik para pelaku sepak bolanya,”

“PSSI harus diarahkan ke semangat pendiriannya pada 19 April 1930 di Yogyakarta sebagai alat persatuan dan kesatuan bangsa. PSSI juga harus dikembalikan ke makna singkatannya: PSSI (Profesional-Sportif-Sehat-Integritas). Ini penting untuk kita jaga bersama,”

Oleh karena itu, SOS menilai peran penting voter dalam hal memilih pemimpin PSSI yang tepat. Kongres disebutnya bukan lagi sekadar duduk, tapi benar-benar bertujuan membawa perbaikan bagi sepakbola Indonesia.

“Sepak bola kita sebenarnya sudah jauh lebih maju dan berprestasi bila kita mau fokus mengelolanya. Sayangnya, keinginan untuk maju itulah yang selama ini tidak ada. Kongres kali ini harus benar-benar menghasilkan putusan fundamental terhadap permasalahan sepakbola Indonesia.”

“Nasib dan masa depan sepakbola Indonesia ditentukan di tangan 105 voters pada Kongres nanti. Karena kita berharap voters menggunakan nuraninya untuk masa depan yang lebih baik dan berprestasi seperti harapan masyarakat sepakbola Indonesia,” demikian penyataan SOS.

(ads/din)


Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *